Feeds:
Tulisan
Komentar

Agar Cinta Bersemi Indah

  • thank you Allah

Agar Cinta Bersemi Indah

Menerima pendamping kita apa adanya dengan tidak berharap terlalu banyak, merupakan bekal untuk mencapai kemesraan dalam rumah tangga dan kebahagiaan di akhirat.

Sebagai hamba yang dianugerahi fitrah, kita memang perlu menyeimbangkan harapan. Tak salah kita berdoa memohon suami yang sempurna, tetapi pada saat yang sama kita juga harus melapangkan dada untuk menerima kekurangan. Kita boleh memancangkan harapan, tapi kita juga perlu bertanya apa yang sudah kita persiapkan agar layak mendampingi pasangan idaman.

Ini bukan berarti kita tidak boleh mempunyai keinginan untuk memperbaiki kehidupan kita, rumah tangga kita, serta pasangan kita. Akan tetapi, semakin besar harapan kita dalam pernikahan semakin sulit kita mencapai kebahagiaan dan kemesraan. Sebaliknya, semakin tinggi komitmen pernikahan kita (marital commitment) akan semakin lebar jalan yang terbentang untuk memperoleh kebahagian dan kepuasan.

Apa bedanya harapan dan komitmen? Apa pula pengaruhnya terhadap keutuhan rumah tangga kita? Harapan terhadap perkawinan menunjukkan apa yang ingin kita dapatkan dalam perkawinan. Bila kita memiliki harapan perkawinan yang sangat besar, sulit bagi kita untuk menerima pasangan apa adanya. Kita akan selalu melihat dia penuh kekurangan. Jika kita menikah karena terpesona oleh kecantikannya, kita akan segera kehilangan kemesraan sehingga tidak bisa berlemah lembut begitu istri kita sudah tidak memikat lagi. Betapa cepat dan berlalu dan betapa besar nestapa yang harus ditanggung.

Sementara itu, komitmen perkawinan lebih menunjukkan rumah tangga seperti apa yang ingin kita bangun. Kerelaan untuk menerima kekurangan, termasuk mengikhlaskan hati menerima kekurangannya membuat kita lebih mudah mensyukuri perkawinan.

Disebabkan oleh komitmen yang sangat kuat pada Allah dan Rasul-Nya istri Julaibib mengikhlaskan hati untuk menikah dengan Julaibib. Yang baru semalam usia pernikahan mereka Julaibib mengakhiri hayat di medan syahid. Ketika ibunya merasa tidak rela dikarenakan rendahnya rendahnya martabat dan buruknya perawakan fisik, ia meminta agar orang tuanya menerima pinangan itu kalau memang Rasulullah saw. yang menentukan.

Orang yang melapangkan hati untuk menenggang perbedaan, cenderung akan menemukan banyak kesamaan. Perbedaan itu bukan lantas tidak ada, tetapi kesediaan untuk menenggang perbedaan membuat kita mudah untuk melihat kesamaan dan kebaikannya. Sebaliknya, kita akan merasa tidak nyaman berhubungan dengan orang lain, tidak terkecuali pendamping hidup kita, bila kita sibuk mempersoalkan perbedaan. Apalagi jika kita sering menyebut-nyebutnya, semakin terasa perbedaan itu dan semakin tidak nyaman membina hubungan dengannya.

Semoga Allah melindungi kita dari mempersoalkan perbedaan tanpa mengilmui. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesibukan yang membinasakan. Semoga Allah pula kelak mengukuhkan ikatan perasaan di antara kita dengan kasih sayang, ketulusan, dan kerelaan menenggang perbedaan. Sesungguhnya telah berlalu umat-umat sebelum kita yang mereka binasa karena sibuk mempersoalkan perbedaan dan memperdebatkan hal-hal yang menjadi rahasia Allah.

Nah, jika mempersoalkan perbedaan, menyebut-nyebutnya, dan mengeluhkannya akan membuat hubungan renggang, mengapa tidak melapangkan hati untuk menenggangnya? Sesungguhnya menenggang perbedaan akan menumbuhkan kasih sayang dan kemesraan yang hangat. Ada perasaan mengharukan yang sekaligus membahagiakan jika kita memberikan untuknya apa yang ia sukai.

Untuk itu, ada tiga hal yang perlu kita pahami agar ia mempercayai ketulusan kita. Pertama, berikanlah perhatian yang hangat kepadanya. Besarnya perhatian membuat dia merasa kita sayang dan kita cintai. Kedua terimalah ia tanpa syarat. Penerimaan tanpa syarat menunjukkan bahwa kita mencintainya dengan tulus. Tidak mungkin menerima dia apa adanya jika kita tidak memiliki ketulusan cinta dan kebersihan niat. Ketiga, ungkapkanlah dengan kata-kata yang tepat.

Berkaitan dengan ungkapan ini, ada sebuah tips yang ahsan yang disampaikan oleh ustaz yang kini masih mengajar di jurusan Psikologi, UII, Yogyakarta ini. Yakni terminologi “aku” dan kamu”. Saat kita mendapatkan bahwa masakan yang dibuat pasangan kita keasinan misalnya, maka gunakanlah kata ganti “aku” . “Aku lebih suka kalau sayurnya lebih manis, sayang” Tapi saat kita mendapatkan suatu kelebihan pada diri pasangan, ia sukses menggoreng telor dadar misalnya (biasanya ia menggoreng berkerak), maka kita gunakan kata ganti “kamu”. “Kamu memang pintar, istriku”. Kita gunakan kata “aku” untuk sesuatu yang sifatnya negatif dan “kamu” untuk sesuatu yang sifatnya positif. Untuk semua hal.

Tampaknya memang benar, karena penggunaan kata ganti “kamu” untuk sebuah kesalahan yang telah dilakukan oleh pasangan kita cenderung menyaran pada arti memvonis alih-alih memosisikan pasangan kita sebagai tertuduh.

Dalam perspektif pragmatik (linguistik), terminologi ini merupakan sebuah upaya penggunaan maksim kesopanan dengan tetap mempertahankan maksim kerja sama. Dengan tujuan agar tidak terjadi konflik pada keduanya.

Berangkat dari petunjuk Allah ini tidak layak bagi kita untuk sibuk mempersoalkan kekurangan ataupun kesalahan, apalagi kekurangan yang sulit dihilangkan, sepanjang ia tidak melakukan kekejian yang nyata. Betapa pun banyak yang tidak kita sukai darinya, kemesraan dengannya tak akan pudar jika kita mencoba untuk berbaik sangka kepada Allah, barangkali di balik itu Allah berikan kebaikan yang sangat besar. Sebaliknya, sesedikit apa pun keburukannya, bila kita sibuk menyebut-nyebut dan mengingatnya, akan sangat memberatkan jiwa. Dampak selanjutnya tidak hanya bagi hubungan suami istri, tetapi merembet pada hubungan kita dan si kecil.

Terimalah ia apa adanya. Terimalah kekurangannya dengan keikhlasan hati maka akan kita temukan cinta yang bersemi indah. Sesudahnya berupaya memperbaiki dan bukan menuntut untuk sempurna. Bukankah kita sendiri mempunyai kekurangan, mengapa kita sibuk menuntut istri untuk sempurna? Ada amanat yang harus kita emban ketika kita menikah. Ada ruang untuk saling berbagi. Ada ruang untuk saling memperbaiki. Dan bukan saling mengeluhkan, alih-alih menyebut-nyebut kekurangan.

Pahamilah kekhilafannya agar ia merasa ringan dalam memperbaiki, meski bukan berarti kita lantas membiarkan kesalahan. Berikanlah dukungan dan kehangatan kepadanya sehingga ia berbesar hati menghadapi tantangan-tantangan yang ada di depan. Tunjukkanlah bahwa kita memang sangat menghargainya, menerimanya dengan tulus, mau mengerti dan bersemangat mendampinginya.

Dalam buku ini Ustaz Fauzil memang tidak hanya membahas seputar keikhlasan menerima pasangan kita apa adanya. Namun tampaknya beliau memandang masalah yang remeh temeh ini dalam beberapa hal telah menjadi batu karang yang cukup terjal yang kemudian melahirkan benih-benih konflik dan alih-alih perceraian.

Seperti pada bagian akhir, beliau menjelaskan bagaimana upaya belajar itu tidak sebatas menerima apa adanya, tetapi juga diikuti dengan belajar mendengar dengan sepenuh hati. Karena tidak jarang kita bukan tidak paham jawaban yang sesungguhnya diinginkan di balik pertanyaan pasangan.

Cukup banyak hal sepele yang tampaknya kita anggap telah kita berikan tetapi ternyata hal itu jauh meleset dari dugaan. Kita bukan mendengar pasangan tetapi mendengar diri sendiri, kita bukan memberi solusi tapi malah menambah materi. Kita bukan memberi jalan keluar alih-alih menghakimi. Kita bukan memberikan jawaban, tetapi malah memberikan pertanyaan. Kita bukan meringankan tetapi malah memberatkan. Benarkah?

Al akhir, kekayaan itu ada di jiwa. Dan keping kekayaan itu dimulai dari ketulusan menerima. Dengan kekayaan jiwa kita akan lebih mudah memberikan empati, lebih mudah untuk memahami, lebih mudah untuk berbagi dan lebih mudah mendengar dengan sepenuh hati.

Hari ini, ketika kita bermimpi tentang sebuah pernikahan yang romantis sementara ikatan batin di antara kita dan pasangan begitu rapuh, sudahkah kita berterima kasih kepadanya? Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan kesalahan kita? Jika belum, mulailah dengan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan ungkapkan sebuah panggilan sayang untuknya. Mulailah dari yang paling mudah, hatta yang paling remeh atau kecil sekalipun. Mulailah dari yang paling kecil, demikian Ustaz Aa’ berpesan. Little things mean a lot, demikian Ustaz Fauzil menambahkan. Agar cinta bersemi dalam keluarga kita, agar cinta senantiasa berbunga dalam kehidupan kita.

Masya Allah.

Subhanallah.

Alhamdulillahirabbil alamiin.

Wallahu alam bisshawab.

Renungan

Yang paling dekat dengan diri
kita di dunia ini ialah MATI. Sebab itu janji
Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185).

Yang paling jauh dari kita di
dunia ini adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita,
apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat
kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus
menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan
datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran
Agama”.

Yang paling besar didunia ini adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179).
Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan
sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Yang paling berat didunia adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua
tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi
khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan
sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah
SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana
gagal memegang amanah.”

Yang paling ringan di dunia ini adalah
MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau
urusan dunia, kita tinggalkan solat “

Yang paling tajam sekali di dunia
ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana
melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati
dan melukai perasaan saudaranya sendiri ”

cintaku

Aku ingin kau menjadi wanita ….. wanita seperti bunga …..

Ø Aku ingin kau menjadi seperti lebah yang hinggap di atas bebungaan yang harum dan ranting-ranting yang segar

Ø Aku ingin kau menjadi lebih cantik dan lebih indah dari pada kebun yang berbunga berkat akhlak dan budi pekerti….

Ø Aku ingin kau seperti Aisyah yang telah diabadikan oleh Allah melalui pujian dalam kitabnya dan menyanjung sikap yang dilakukannya

Ø Aku ingin kau menjadi wanita wadiah yaitu wanita yang indah tanpa perhiasan

Ø Aku ingin kau menjadi wanita sholehah kepada suaminya, mengerjakan shalat 5 waktu dan memelihara kehormatannya

Ø Aku ingin kau menjadi wanita yang cantik dengan akhlaq dan kaya akan etika bukan karena bak emas dan permata

Ø Aku ingin kau menjadi wanita yang sholeh, bershadaqah, berpuasa, mengerjakan shalat, berhijab, takut pada Allah dan suami, menghormati tetangga dan sayang pada anak-anak

Ø Aku ingin kau menjadi semut dalam hal kesungguhan, ketekunan dan kesabaran dan selalu berupaya untuk bertobat dan jika kembali melakukan dosa, aku ingin kembali padaMu ya Allah

Ø Aku ingin kau menjadi wanita yang berakal yang dapat mengubah sahara yang tandus menjadi taman yang indah dan subur

Ø Aku ingin kau mendapatkan seorang ikhwan…..ikhwan yang mempunyai tauladan seperti Nabi…

Ø Aku ingin kau menjadi wanita cantik tapi bukan karena perhiasan, tapi pada 2 rakaat dipenghujung malam, kehausan ditengah terik sebab puasa karena Allah, shadaqah yang tersembunyi tanpa ada yang mengetahui kecuali Allah, sujud lama diatas hamparan sajadah dan rasa malu karena dorongan kejahatan dan rayuan setan datang menggoda

Ø Aku ingin kau menjadi pohon kurma yang jauh dari keburukan, terhindar dari gangguan yang apabila dilempar dengan batu ia akan menggugurkan buahnya, yang senantiasa hijau baik musim panas dan dingin.

Ø Aku ingin kau menjadi wanita sholeh yaitu wanita yang menetap dirumah karena wanita adalah bak bejana yang tipis lagi mudah pecah

Cinta Sejati

Cinta sejati adalah cinta yang dijalin oleh suami-istri. Cinta yang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Cinta yang transparan sebening kaca. Adapun jalinan cinta sebelum ikatan nikah maka ia adalah cinta yang penuh kamuflase, basa-basi dan polesan lipstik. Ungkapan cinta yang bak madu beracun itu sering dijadikan jaring dan jebakan oleh manusia-manusia serigala, sehingga pasangannya tak berdaya. Karenanya banyak korban yang berjatuhan, terutama kaum wanita, atas nama cinta sebelum menikah. Dan puncaknya adalah terenggutnya kesucian mereka, na’udzubillah. Jika anda tidak ingin menjadi korban berikutnya, jauhilah api cinta sebelum menikah. Percayalah!
Sebaliknya, jika anda ingin menikmati cinta sejati, carilah ia di dalam ikatan cinta suami-istri. Anda tidak saja akan merasakan keagungan cinta, tapi setiap ungkapan mesra, belaian kasih hingga hubungan intim suami-istri yang anda jalani pun dicatat sebagai pahala. Bahkan anda boleh berdusta –sebuah dispensasi luar biasa- sekedar untuk menyenangkan hati istri anda. Subhanallah…

suami yang sholeh

  • Suami yang taat dalam melaksanakan perintah serta suruhan Allah dan RasulNya dan dapat pula membimbing isterinya

  • Suami yang mampu memberikan nafkah sama ada zahir ataupun batin

  • Suami yang sedia memberikan nasihat, bimbingan , dorongan , didikan dan tunjuk ajar dalam melaksanakan tugas serta tanggungjawab rumah tangga dan juga terhadap Allah S.W.T.

  • Suami yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan isteri yang timbul bersama jiran tetangga atau sebagainya.

  • Suami yang dapat memberikan pemerhatian dalaam hal keselamatan, kebajikan dan kesihatannya.

  • Suami yang dapat menyediakan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang sempurna mengikut kemampuannya

  • Suami yang penyabar dan tidak mengggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu masalah atau untuk mendapatkan sesuatu.

  • Suami yang tidak cemburu buta tanpa asas terhadap isterinya yang mana boleh merosakkan keutuhan rumah tangga mereka.

  • Sentiasa memberikan kasih sayang, belas kasihan dan pergaulan yang baik terhadap isterinya.

  • Suami yang sentiasa menjaga rahsia isterinya dan tidak didedahkan kepada orang lain.

  • Suami yang ikhlas dan jujur serta dapat menepati janji terhadap isteri dan anak-anak.

  • Suami yang menjauhkan diri dari perbuatan maksiat seeprti meminum minuman keras, berjudi, berzina, menipu, mencuri dan sebagainya.

  • Suami yang dapat memberikan penjagaan dan pemerhatian yang baik terhadap isterinya. Penjagaan ini meliputi semua hal termasuk kehormatannya.

  • Suami mestilah bijak memahami persaan dan hati isteri sama ada dengan perbuatan atau perkataan, jangan biarkan dirinya dalam keadaaan bersedih.

  • Suami yang sentiasa mengutamakan kebersihan diri, zahir dan batin.

  • Suami mestilah menahan dirinya dari bergaul secara bebas dengan wanita lain.

  • Suami yang dapat menyelidiki secara cermat dan teliti segala hal yang disampaikan oleh orang lain yang berkaitan dengan isterinya.

  • Suami yang bijak dalam memimpin rumah tangganya dan melaksanakan tugas dengan penuh amanah serta bertanggungjawab.

  • Kuat agamanya
    Biar sibuk sekalipun, sholat fardhu tetap terpelihara. Utamakanlah pemuda yang taat pengamalan agamanya. Lihat saja Rasulullah menerima pinangan Saidina Ali buat puterinya Fatimah. Lantaran ketaqwaannya yang tinggi biarpun dia pemuda paling miskin. Utamakanlah pemuda yang jujur membimbing dan memelihara iman anda.
  • Baik akhlaknya
    Ketegasannya nyata tetapi dia lembut dan bertolak-ansur hakikatnya. Sopan tutur kata gambaran peribadi dan hati yang mulia. Rasa hormatnya pada warga tua ketara. Mudah di bawa berbincang. Tidak terlalu berahsia.
  • Tegas mempertahankan maruah
    Pernahkah dia menjengah ke tempat-tempat yang menjatuhkan kredibiliti dan maruahnya sebagai seorang Islam? Adakah dia jujur sebagai pelindung maruah seorang perempuan?
  • Amanah
    Jika dia pernah mengabaikan tugas yang diberi dengan sengaja ditambah pula salah guna kuasa, lupakan saja si dia.
  • Pemurah tetapi tidak boros
    Dia bukanlah kedekut tapi tahu membelanjakan uang dan harta dengan bijaksana. Setiap nikmat yang ada dikongsi bersama mereka yang berhak.
  • Tidak liar matanya
    Perhatikan apakah matanya kerap meliar ke arah perempuan lain yang lalu-lalang ketika berbicara. Jika ya jawabnya, dia bukanlah calon yang sesuai buat kamu.
  • Terbatas pergaulan
    Sebagai lelaki dia tahu dia tidak mudah jadi fitnah orang, tetapi dia tidak mengamalkan cara hidup bebas.
  • Rekan pergaulannya
    Rekan2 pergaulannya adalah mereka yang sepertinya. Sebaik-baik teman adalah teman yang soleh.
  • Bertanggungjawab
    Rasa tanggungjawabnya dapat diukur kepada sejauh mana dia memperuntukkan dirinya untuk ibu bapak dan ahli keluarganya.
  • Tenang wajah
    Apa yang tersimpan dalam sanubari kadang2 terpancar pada air muka. Wajahnya tenang, setenang sewaktu dia bercakap dan bertindak.
  • Bijaksana

kemuliaan sholat Tahajud

Dia dijaga oleh Allah daripada beberapa bencana. Berkat ketaatannya, akan nampak pada wajahnya. Dia disukai oleh hamba Allah yang soleh dan oleh semua manusia. Ucapannya mampu mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmah. Diberi cepat mengerti dan mendapat ilmu pengetahuan. Dia dibangunkan dari kubur dengan wajah yang putih berseri. Diringankan hisabnya. Melalui titian siratul mustaqim bagaikan kilat yang menyambar. Diberi buku catatan amalannya melalui tangan kanannya di hari kiamat. (Raudhatul Ulama).

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Rabbana hab lana min azwajina wa dzuriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqina limaman
Artinya :
Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami dari istri-istri kami dan anak cucu kami yang menyenangkan kami dan jadikanlah kami sebagai ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa ” (QS. Al-Furqan : 74)

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

Artinya :

Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil