Merasakan menjadi seorang Ibu merupakan anugrah tiada tara yang telah Allah berikan padaku. Sebelumnya beberapa artikel maupun buku yang menggambarkan sosok pahlawan keluarga bernama Ibu seringkali ku baca. Hal tersebut sebagai ikhtiar untuk membangkitkan cintaku pada kedua orang tua, karena aku ingin mencintai mereka hingga akhir usiaku. Namun terkadang perasaan itu terasa datar. Tak lebih dari sebatas penghormatan atas anak terhadap orang tuanya. Teori-teori dan kisah yang digambarkan belum begitu merasuk dalam sanubari.
Sampai suatu ketika, tanggal 3 Desember 2009 aku melahirkan seorang bayi mungil. Bayi perempuan yang menakjubkan. Dia hadiah terindah dalam hidupku, hadiah di usiaku yang ke 23 tahun. Syukurku tiada terkira dengan amanah ini. Ternyata baru ku rasakan bahwa benar, cinta Ibu sepanjang jalan, namun cinta anak sepanjang galah. Tak akan bisa sebanding cinta yang diberikan anak kepada orang tua melebihi cinta orang tua terhadap anak-anaknya.
Beberapa kali aku menatap lelapnya putriku dalam pangkuan. Indah, dan ada rasa bahagia yang menyusup lembut dalam dada. Perasaan yang tak mungkin bisa kugambarkan dengan sepenggal kata. Seperti ucapapan Suamiku Mas Gie, yang mengatakan bahwa rasa itu memang hanya bisa dirasakan, tak kan bisa diungkapkan lebih dari yang terasa.
Betapa Allah Maha Kuasa, telah memberikan rasa kasih dan sayang kepada setiap Ibu di dunia. Rasa kasih yang menakjubkan hanya memberi dan tak harap kembali. Bagi seorang Ibu, melihat perkembangan anak-anaknya yang baik, sehat dan lucu sudah memberikan kebahagiaan yang tiada tara. Seiring bergulirnya masa, ketika anak-anak telah bisa mengucapkan satu dua kata, terlebih memanggil Ibu pada kita, itupun membuat hati para Ibu bergetar merasakan cinta yang makin bertambah-tambah pada putra-putrinya.
Kemudian ketika anak-anak sudah bisa berjalan bahkan berlari, seorang ibu dengan sabarnya mengikuti kemana pun anaknya berlarian dengan riang kesana kemari, mengamati dengan hati berbunga bahwa buah hatinya kini tengah belajar di alam terbuka.
Anak-anak seringkali membuat penat dan lelah hancur seketika dengan polah tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Dan bahkan mendamaikan kedua orang tua yang tengah berselisih pendapat. Mereka, anak-anak yang membawa bahagia, wajah polos yang senantiasa menampakkan keceriaan, mudah melupakan kesalahan teman, dan semangat belajar yang tak pernah padam meski berkali-kali gagal, mereka tak kenal lelah apalagi putus asa, anak-anak selalu menampakkan wajah optimis bahwa mereka pasti bisa. Coba lagi dan coba sampai bisa.
Lalu sebenarnya siapakan yang paling memberikan kemanfaatan? Apakah kita? Atau justru anak-anaklah yang lebih banyak memberi manfaat bagi kita? Marilah kita renungkan bersama bahwa sejatinya Kitalah (orang tua-red) yang membutuhkan anak-anak..
Sudah pasti yang terbaik buat anak-anak kita, apa yang kita kerjakan selama ini untuk mereka, karena sejatinya merekalah investasi kita di akhirat kelak. Seperti kata pepatah
Siapa yang menanam dia akan menuai
Namun dalam hal ini tidak hanya asal tanam, tanpa perawatan yang baik dan intensif. Meski sama-sama tumbuh, namun tanaman yang dirawat dengan baik, di pupuk, diairi akan memberikan hasil yang lebih indah. Dia akan berbuah, banyak dan ranum. Sedang tanaman yang sekedar ditanam tanpa dirawat, mungkin akan tumbuh, namun tampak gersang, kurus, dan tak berbuah. Maka, hany sedikit manfaat yang diberikan.
Mungkin seperti hukum aksi sama dengan reaksi
Ya, siapa yang menanam, maka dia akan menuai. Semoga kita semua mampu menjadi orang tua yang bijak, yang paham dan mau belajar dari waktu ke waktu. Karena hidup selalu berproses, berubah dari masa ke masa.